Social Profiles


Breaking News

About

TEXT WIDGET

Blogroll

Blogger Template

Senin

Tips Disiplin Pada Anak



Membangun batasan-batasan
untuk seorang anak
agar memiliki disiplin diri sangatlah penting

agar anak dapat mempunyai perilaku
yang positif dan normatif.

Jika orang tua memberi petunjuk secara benar,
maka anak-anak cenderung untuk mengikuti
karena pada dasarnya mereka ingin menyenangkan orang tuanya.

Bilamana orang tua mulai membangun batasan-batasan
yang diperlukan untuk menciptakan disiplin pada perilaku anak,
b
anyak di antara orang tua yang tidak mampu
atau tidak tahu bagaimana caranya.

Kadang orang tua malah bicara terlalu banyak (nyinyir),
terlalu emosionil atau gagal

untuk mengekspresikan dirinya sendiri

secara jelas dan penuh otoritas.

Bila kita harus mengatakan kepada anak
apa yang harus dilakukannya
dan ia harus melakukannya sekarang juga
(misalnya, rapikan tempat tidurmu) ,

lebih baik jalankan sepuluh tips dibawah ini
agar orang tua lebih mudah mendirikan batasan-batasan itu


1.Lebih spesifik

Berapa kali orang tua mendengar dirinya sendiri
atau orang tua lainnya memberikan
batasan-batasan
seperti, "Jaga kelakuanmu", "Jadi anak baik ya",
"Jangan berisik" dan lainnya.
Guideline seperti itu mungkin artinya berbeda bagi orang lain.

Anak-anak akan mengerti orang tuanya
dengan lebih baik jika orang tua membuat petunjuk secara konkrit.
Sebuah batasan yang spesifik
mengatakan secara jelas
apa yang harus dilakukan oleh seorang anak.
Misalnya, "Jangan bicara keras-keras di rumah sakit",

"Pegang tangan Ibu kalau menyeberang jalan", dan sebagainya.

Strategi ini dapat membuat anak lebih menurut.


2. Tawarkan pilihan-pilihan.

Dalam banyak kasus,
orang tua memberikan anaknya pilihan terbatas

agar supaya anak menurut orang tuanya.
Memiliki kemerdekaan dalam memilih

membuat anak merasakan suatu perasaan
akan kekuatan dan kontrol
yang akan mengurangi perlawanan dari anak.

Misalnya, orang tua dapat menawarkan pilihan kepada anaknya
mau mandi dengan berendam di tub bath
atau disiram dengan gayung dari bak.


3
. Lebih tegas.

Dalam banyak hal penting
dimana ada kecendrungan anak untuk menunjukkan perlawanan,

saatnyalah orang tua harus menunjukkan

batasan secara tegas.
Sebuah batasan yang tegas

akan mengajarkan seorang anak
kapan dia harus menghentikan perilaku

yang tidak dikehendaki dan menurut pada orang tuanya.

Misalnya, "Jangan melempar-lempar mainanmu seperti itu!".
Batasan tegas seperti ini paling baik
jika ditunjukkan dengan suara orang tua yang terdengar tegas
seperti komando dan mimik muka yang serius.

Batasan yang lunak atau tidak tegas
dapat membuat anak mempunyai pilihan,
menurut atau membangkang.

Contoh dari batasan yang tidak tegas
seperti ini, "Kenapa sih kamu tidak membereskan mainanmu sekarang juga?".
Batasan-batasan yang kurang atau tidak tegas seperti ini
layak dilakukan jika orang tua ingin anaknya beraksi dalam cara tertentu.


4. Penekanan pada hal-hal positif.

Anak-anak lebih menerima
kepada perintah "kerjakan / lakukan"

daripada "jangan lakukan / kerjakan".

Petunjuk "jangan" atau "hentikan"
mengajarkan anak apa yang tidak dapat diterima.

Orang tua jangan menjelaskan perilaku
yang orang tua inginkan (misalnya , "Ibu ingin kamu diam!").
Lebih baik katakan kepada anak

apa yang seharusnya dilakukan (misalnya, "bicara pelan-pelan")
d
ari pada melarangnya (misalnya, "jangan teriak-teriak!").

Orang tua yang otoriter
lebih sering mengatakan kata "tidak, jangan" kepada anaknya.
Sedangkan orang tua yang senang memerintah
lebih sering mengatakan kata perintah "kerjakan, lakukan!".


5. Hindari perkataan, "Aku ingin..." bagi orang tua.

Kalau orang tua menyuruh anaknya pergi tidur dengan mengatakan,
"Ibu / Ayah ingin kamu pergi ke tempat tidur sekarang!",
ini dapat menciptakan konflik antara orang tua dan anaknya.

Strategi yang lebih baik
adalah langsung menekankan peraturan sercara impersonal.
Misalnya, orang tua dapat mengatakan,
"Sekarang sudah jam 8 lho sayang. Waktu kamu untuk tidur."
Dalam cara ini, setiap konflik atau perasaan marah
yang terjadi pada diri anak
hanya akan terjadi antara anak dengan" jam"nya
bukan dengan orang tuanya.

6. Jelaskan mengapa batasan-batasan itu diperlukan.

Bilamana seseorang mengerti pembenaran akan suatu peraturan,
me
reka akan cenderung untuk mematuhinya
daripada membangkangnya
karena akan timbul suatu konsekwensi misalnya.
Sehingga, bila orang tua pertama kali memberi sebuah batasan,
jelaskan mengapa anak harus menurutinya.

Mengerti alasan-alasan dari peraturan itu
akan menolong anak mengembangkan standart internal
dari perilaku sadar dirinya.
Daripada memberikan penjelasan panjang lebar,
l
ebih baik tekankan alasannya secara tegas, cepat dan ringkas.

Misalnya, "Jangan pukul orang ya, itu sakit".
Atau, "Jangan merampas mainan anak lain ya,
mereka pasti sedih kehilangan mainannya".

7. Memberikan alternatif.

Bilamana orang tua melarang
atau memberikan batasan yang diperlukan atas perilaku anak ,
coba untuk memberikan aktifitas alternatif
y
ang dapat diterima olehnya.
Dengan begitu orang tua akan terlihat tidak begitu "negatif"
atau "jahat" dan anak akan merasa tidak begitu tercabut hak-haknya.

Misalnya, ketika anak anda bermain-main dengan lipstik milik ibunya.
Ibunya dapat mengatakan, "Ibu tahu kamu kamu menginginkan lipstik ibu.
Tapi ini untuk bibir, bukan untuk mainan.
K
alau kamu mau menggambar,
nih ibu punya krayon dan kertas untuk kamu".

Dengan menawarkan alternatif,
orang tua mengajarkan anaknya
bahwa perasaan dan keinginannya diterima oleh orang tuanya
tetapi tindakan yang dilakukan sebelumnya tidaklah benar.
Orang tua memiliki alternatif
yang tetap membuat anaknya senang.


8. Tetap serius dalam konsistensi.

Aturan utama dalam menerapkan
batasan-batasan yang efektif
adalah dengan menghindari peraturan yang tidak konsisten.

Misalnya, hari ini anak disuruh tidur jam 8 tetapi besoknya jam 9 dst.
Hal ini dapat mengundang ketidakpatuhan
dan hampir tidak mungkin untuk mendisiplinkan anak.

Aturan-aturan dan rutinitas yang telah ditetapkan
dalam sebuah keluarga harus terus diterapkan
meskipun orang tua dalam keadaan lelah sepulang bekerja.

Jika tidak maka anak dapat menganggap orang tuanya
hanya main-main dalam menetapkan peraturan itu.


9. Tunjukkan ketidak setujuan itu terhadap perilaku si anak, bukan anaknya.

Betapa pun seriusnya kelakuan buruk si anak,
orang tua harus menjelaskan kepada anaknya

bahwa yang tidak disenangi oleh orang tuanya itu
adalah perilaku buruknya dan bukan dirinya.
Bukan pula orang tua menolak mereka.

Jadi daripada berkata, "Dasar, anak nakal!"
(menunjukkan bahwa orang tua menolak anaknya),
sebaiknya orang tua berkata, "Jangan manjat-manjat meja ya!".


10. Kontrol emosi orang tua

Penelitian menunjukkan
bahwa bila orang tua sedang sangat marah
mereka cenderung untuk menghukum secara berlebihan
dan cenderung untuk secara fisik
maupun verbal mengabuse anaknya.

Lebih baik, jika emosi melanda jiwa orang tua, tarik nafaslah,
ucapkan Astagfirallah daripada memukul anak.
Disiplin dasarnya adalah mengajarkan anak
bagaimana seharusnya berperilaku yang benar.
Orang tua tidak dapat mengajarkan anaknya disiplin secara efektif
jika sedang dilanda emosi.

Semua anak-anak membutuhkan orang tuanya
untuk membangun aturan-aturan
bagi perilaku yang diterima dan benar.
Jika orang tua lebih mampu
untuk menerapkan batasan-batasan ini
maka anak akan lebih kooperatif
dan mau menurut kepada orang tuanya.

Hal ini akhirnya dapat menciptakan atmosfir yang sehat di dalam keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

Designed By VungTauZ.Com